Benci Allah kasih kita paket lengkap, dengan segala kelengkapan fisik dan keragaman perasaan, mulai dari bahagia, sedih hingga benci. Berpasang-pasangan. Tugas Kita mengelolanya. Ini mudah banget, kalau cuma sekedar kata atau teori, kenyataan prakteknya? Jangan ditanya, beratnya luar biasa. Tapi kan ada Allah yang menguatkan. Salah satu perasaan yang menguras segala-galanya, tenaga, perasaan, fokus, uang bahkan hingga waktu ... Benci Sebegitu mahalnya untuk sebuah rasa yang kalau Kita turuti akan menghancurkan diri sendiri ga sih? Aku pun pernah ngerasain benci ke orang, situasi, barang atau hal absurd lainnya. Sampai aku kalau pas lagi sama salah satu orang pernah bilang: Idih sok cakep banget sih, muka kayak tukang jamu keliling Gaya sok kayak selebgram Lucu kadang suka jujur aku tu. Sampai jadi concern mantau ni orang buat aneh-aneh ga ya yang sesuai ama curiga aku. Tapi ternyata lama-lama capek. Dan ke ga suka an aku itu semakin buat diri ga tenang dan was-was. Segala perasaan...
Sedih kadang kalau lagi melo, kesalahan fatal macam apalagi yang aku lakuin sampai diperlakukan dingin sebegitunya dan sebegitu lamanya sama orang? Seperti aku terasa buruk sekali hingga diperlakukan begitu. Seperti tak pantas untuk diperlakukan biasa. Sehina itu? Aku mencoba introspeksi, aku minta maaf buat kesalahan yang aku rasa aku temuin, tapi sisanya clueless. Kamu ga berubah, masih sama seperti dulu. Marahnya diam, tapi dengan jangka waktu lama yang buatku.. ini berat. Marahku sama masih meledak-ledak, penasaranku sama masih dengan memaksa orang untuk menjawab penasaranku. Kita berulang punya masalah yang sama. Mungkin karena penanganannya selalu sama hingga hal yang sama berulang. Aku buat kesalahan, aku didiemin bukan hanya sehari atau dua hari yang selepas itu kamu biasa. Apa hubungan ini masih sehat? Atau hanya aku yang mengira hubungan ini masih ada? Saat aku dibentak aku gatau alasannya hingga aku pantas dibentak. Aku cuma mikir mungkin kamu lagi banyak pikiran ...